Selasa, 30 April 2013

makalah



KATA PENGANTAR
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Alhamdulillah, segala puji penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala inayah dan kenikmatan yang senantiasa dicurahkan-Nya kepada kita semua berupa kesehatan, kekuatan, serta kesempatan sehingga makalah ini dapat selesai tepat pada waktunya. Tidak lupa penulis kirimkan shalawat dan salam beriringan dengan ucapan terima kasih yang tiada terhingga kepada Baginda Rasulullah SAW atas segala pengorbanan yang telah dilakukannya beserta para sahabat, sehingga kini kita mampu mengkaji alam ini lebih tinggi dari gunung tertinggi, lebih dalam dari lautan terdalam, serta lebih jauh dari batas pandangan mata. Ucapan terima kasih penulis haturkan kepada semua pihak yang berperan dalam penyusunan makalah ini, khususnya kepada dosen pembimbing mata kuliah Ilmu Keperawatan Anak
Adapun makalah ini berisikan pembahasan tentang “kwashiorkor pada anak” yang bertujuan sebagai bahan bacaan,dan bahan tugas untuk mata kuliah Ilmu Keperawatan Anak, semoga dapat bermanfaat bagi yang membacanya.
Dalam makalah ini, penulis menyadari masih terdapat kekurangan dalam penulisannya. Oleh karena itu, mohon kiranya kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembimbing dan pembaca guna untuk kesempurnaan pada pembuatan makalah kami selanjutnya.

Samata, 25 april  2013

                                                                                                                                                                                                                                                HAJRAH



DAFTAR ISI
SAMPUL
Kata Pengantar ...................................................................................................... i
Daftar Isi ............................................................................................................... ii
BAB I  PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang ..................................................................................... 1
B.     Tujuan .................................................................................................. 2
BAB II  TINJAUAN PUSTAKA
A.     Konsep Medis...................................................................................... 3
1.      Defenisi......................................................................................... 3
2.      Etiologi........................................................................................... 3
3.      Epidemologi................................................................................... 4
4.      Patofisiologi................................................................................... 5
5.      Gejala klinis................................................................................... 6
6.      penatalaksanaan............................................................................. 10
7.      komplikasi..................................................................................... 11
8.      Pencegahan.................................................................................... 11
9.      Prognosis........................................................................................ 11
B.     Konsep Proses Keperawatan ............................................................... 12
1.      Pengkajian...................................................................................... 12
2.      Penyimpangan KDM...................................................................... 15
3.      Diagnosa keperawatan................................................................... 16
4.      Intervensi....................................................................................... 16
5.      Evaluasi......................................................................................... 20
BAB III PENUTUP
A.     Kesimpulan.......................................................................................... 21
B.     Saran.................................................................................................... 22
DAFTAR PUSTAKA





BAB I
PENDAHULUAN
A.  LATAR BELAKANG
Malnutrisi adalah suatu keadaan di mana tubuh mengalami gangguan dalam penggunaan zat gizi untuk pertumbuhan, perkembangan dan aktivitas. Malnutrisi dapatdisebabkan oleh kurangnya asupan makanan maupun adanya gangguan terhadap absorbsi, pencernaan dan penggunaan zat gizi dalam tubuh. Selain itu, malnutrisi bisa disebabkan apabila asupan kalori yang berlebih dari kebutuhan harian, dan mengakibatkan penyimpangan energi dalam bentuk bertambahnya jaringan adiposa. Masalah nutrisi yang terjadi pada anak antara lain malnutrisi kurang energi protein (kwashiorkor).
Malnutrisi kurang energi protein adalah gangguan gizi yang disebabkan oleh kekurangan protein dan atau kalori, serta sering disertai dengan kekurangan zat gizi lain. Penyebab Malnutrisi kurang energi protein dapat dibagi kepada dua penyebab yaitu malnutrisi primer dan malnutrisi sekunder.Malnutrisi primer adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh asupan protein maupun energi yang tidak adekuat. Malnutrisi sekunder adalah malnutrisi yang terjadikarena kebutuhan yang meningkat, menurunnya absorpsi dan / atau peningkatan kehilangan protein maupun energi dari tubuh. Secara klinis, kurang energi protein dapat dibagikan kepada tiga tipe yaitu: kwashiokor, marasmus dan marasmik kwashiorkor. Namun pada kesempatan ini akan lebih spesifik di bahas tentang kwashiorkor.
manifestasi dari kurangnya asupan protein dan energi, dalam makanan sehari-hari yang tidak memenuhi angka kecukupan gizi (AKG), dan biasanya juga diserta adanya kekurangan dari beberapa nutrisi lainnya. Disebut malnutrisi primer bila kejadian Malnutrisi kurang energi protein akibat kekurangan asupan nutrisi, yang padaumumnya didasari oleh masalah sosial ekonomi, pendidikan serta rendahnya pengetahuan dibidang gizi. Malnutrisi sekunder bila kondisi masalah nutrisi seperti diatas disebabkan karena adanya penyakit utama, seperti kelainan bawaan, infeksi kronis ataupun kelainan pencernaan dan metabolik, yang mengakibatkankebutuhan nutrisi meningkat, penyerapan nutrisi yang turun dan meningkatnya kehilangan nutrisi. Makanan yang tidak adekuat akan menyebabkan mobilisasi berbagai cadangan makanan untuk menghasilkan kalori demi penyelamatan hidup, dimulai dengan pembakaran cadangan karbohidrat kemudian cadangan lemak serta protein dengan melalui proses katabolik. Pada kondisi ini penting peranan radikal bebas dan anti oksidan. Dengan demikian pada Malnutrisi kurang energi protein dapat terjadi gangguan pertumbuhan, atrofi otot, penurunan kadar albumin serum, penurunan hemoglobin, penurunan sistem kekebalan tubuh, penurunan berbagai sintesis enzim.
Oleh karena semakin banyaknya dijumpai masalah kwashiorkor belakangan ini itu yang mendasari penulis akan mencoba untuk membahasnya dan membuat rencana asuhan keperawatan.



A.   TUJUAN
            Dengan adanya pembuatan makalah ini diharapkan agar siswa dapat lebih mengetahui tentang penyakit yang sering dijumpai pada anak yaitu salah satunya kwashiorkior dan bisa membuat rencana asuhan keperawatan untuk pasien kwashiorkor.








BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. KONSEP MEDIS
1.  PENGERTIAN
Istilah kwashiorkor berasal dari bahasa salah satu suku di Afrika yang berarti "kekurangan kasih sayang ibu". Kwashiorkor ialah gangguan yang disebabkan oleh kekurangan protein, Kwashiorkor ialah defisiensi protein yang disertai defisiensi nutrien lainnya yang biasa dijumpai pada bayi masa disapih dan anak prasekolah (balita). kwashiorkor bisanya terjadi pada anak usia 1-3 tahun. Pertumbuhannya terhambat, jaringan otot lunak dan kendor.
Menurut Suriadi & Rita Yulianni pada bukunya  Asuhan Keperawatan pada anak Kwashiorkor yaitu suatu penyakit yang disebabkan oleh kekurangan protein baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Kekurangan protein dalam makanan akan mengakibatkan kekurangan asam amino esensial dalam serum yang diperlukan untuk sintesis metabolisme terutama sebagai pertumbuhan dan perbaikan sel, makin berkurangnya asam amino dalam serum akan menyebabkan berkurangnya produksi albumin oleh hati.
2. ETIOLOGI
Penyebab terjadinya kwashiorkor adalah inadekuatnya intake protein yang berlansung kronis. Faktor yang dapat menyebabkan hal tersebut antara lain :
a.        Pola makan :Protein (asam amino) adalah zat yang sangat dibutuhkan anak untuk tumbuh dan berkembang. Meskipun intake makanan mengandung kalori yang cukup, tidak semuamakanan mengandung protein / asam amino yang memadai. Bayi yang masih menyusuiumumnya mendapatkan protein dari ASI yang diberikan ibunya, namun bagi yang tidak memperoleh ASI protein dari sumber-sumber lain (susu, telur, keju, tahu dll) sangatlah dibutuhkan. Kurangnya pengetahuan ibu mengenai keseimbangan nutrisi anak berperan penting terhadap terjadi kwashiorkhor, terutama pada masa peralihan ASI ke makanan pengganti ASI.
b.       Faktor sosial: Hidup di negara dengan tingkat kepadatan penduduk yang tingg i, keadaan sosial dan politik tidak stabil, ataupun adanya pantangan untuk menggunakan makanan tertentu dansudah berlansung turun temurun dapat menjadi hal yang menyebabkan terjadinyakwashiorkor.
c.        Faktor ekonomi: Kemiskinan keluarga / penghasilan yang rendah yang tidak dapat memenuhi kebutuhan berakibat pada keseimbangan nutrisi anak tidak terpenuhi, saat dimana ibunya pun tidak dapat mencukupi kebutuhan proteinnya.
d.       Faktor infeksi dan penyakit lannya: Telah lama diketahui bahwa adanya interaksi sinergis antara MEP dan infeksi. Infeksi derajat apapun dapat memperburuk keadaan gizi. Dan sebaliknya MEP, walaupun dalam derajat ringan akan menurunkan imunitas tubuh terhadap infeksi. Seperti gejala malnutrisi protein disebabkan oleh gangguan penyerapan protein, misalnya yangdijumpai pada keadaan diare kronis, kehilangan protein secara tidak normal padaproteinuria (nefrosis), infeksi saluran pencernaan, serta kegagalan mensintesis protein akibat penyakit hati yang kronik.

3. EPIDEMOLOGI
Kasus ini sering dijumpai di daerah miskin, persediaan makanan yang terbatas, dan tingkat pendidikan yang rendah. Penyakit ini menjadi masalah di negara-negara miskin dan berkembang di Afrika, Amerika Tengah, Amerika Selatan dan Asia Selatan. Di negara maju sepeti AmerikaSerikat kwashiorkor merupakan kasus yang langka.
47,3% Dari 97 anak prasekolah mengalami kwashiorkor dengan jumlah terbanyak yaitu pada usia 1-3 tahun.



4. PATOFISIOLOGI
Pada defisiensi protein murni tidak terjadi katabolisme jaringan yang sangat berlebihan karena persediaan energi dapat dipenuhi oleh jumlah kalori dalam dietnya. Kelainan yang mencolok adalah gangguan metabolik dan perubahan sel yang disebabkan edema dan perlemakan hati. Karena kekurangan protein dalam diet akan terjadi kekurangan berbagai asam amino dalam serum yang jumlahnya yang sudah kurang tersebut akan disalurkan ke jaringan otot, makin kurangnya asam amino dalam serum ini akan menyebabkan kurangnya produksi albumin oleh hepar yang kemudian berakibat timbulnya odema. Perlemakan hati terjadi karena gangguan pembentukan beta liprotein,sehingga transport lemak dari hati terganggu dengan akibat terjadinya penimbunan lemak dalam hati
Fungsi protein dalam darah untuk membantu menjaga darah dari bocor keluar dari pembuluh darah ke jaringan tubuh dan gigi berlubang. Ketika protein serum darah merembes sangat rendah pada jaringan lunak rongga perut dan menyebabkan pembengkakan atau edema difus tubuh, dan kembung perut atau asites.
5. MANIFESTASI KLINIK
http://htmlimg4.scribdassets.com/6tsjjkgdxcp98z7/images/5-98b362657d.jpg
Tanda atau gejala yang dapat dilihat pada anak dengan Malnutrisi protein berat-Kwashiorkor, antara lain :
a.       Wujud umum: Secara umumnya penderita kwashiorkor tampak pucat, kurus, atrofi pada ekstremitas,adanya edema pedis dan pretibial serta asites. Muka penderita ada tanda moon face dari akibat terjadinya edema. Anak akan mengalami gangguan pada mata karena kekurangan vitamin A.
b.      Retardasi pertumbuhan: Gejala penting ialah pertumbuhan yang terganggu. Selain berat badan, tinggi badan juga kurang dibandingkan dengan anak sehat.
c.       Perubahan mental: Penderita kwashiorkor juga tampak apathis, tidak ada perhatian terhadap keadaan sekitarnya, yang tampak pada ekspresi mukanya dengan mata yang redup dan tidak bersinar. Sering anak ini menangis dan tidak mau berhenti untuk waktu yang lama, hilang nafsu makan dan rewel. Pada stadium lanjut bisa menjadi apatis. Kesadarannya juga bisa menurun, dan anak menjadi pasif.
d.      Edema: Pada sebagian besar penderita ditemukan edema baik ringan maupun berat. Edemanya bersifat pitting. Edema terjadi bisa disebabkan hipoalbuminemia, gangguan dinding kapiler, dan hormonal akibat dari gangguan eliminasi ADH. Edema yang terjadi karena hipoproteinernia yang dimana cairan akan berpindah dari intravaskuler kompartemen ke rongga intrastitial yang kemudian menimbulkan asites.
e.       Kelainan rambut: Perubahan rambut sering dijumpai, baik mengenai bangunnya (texture), maupun warnanya. Sangat khas untuk penderita kwashiorkor ialah rambut kepala yang mudahtercabut tanpa rasa sakit. Pada penderita kwashiorkor lanjut, rambut akan tampak kusam, halus, kering, jarang dan berubah warna menjadi putih. Sering bulu mata menjadi panjang. Rambut tampak halus dengan pigmen yang kurang sehingga tidak berwarna hitam legam tetapi berwarna kemerahan dan dapat dicabut tanpa terasa sakit
f.       Kelainan kulit: Kulit penderita biasanya kering dengan menunjukkan garis-garis kulit yang lebihmendalam dan lebar. Sering ditemukan hiperpigmentasi dan persisikan kulit. Padasebagian besar penderita dtemukan perubahan kulit yang khas untuk penyakit kwashiorkor, yaitu crazy pavement dermatosis yang merupakan bercak-bercak putih atau merah muda dengan tepi hitam ditemukan pada bagian tubuh yang seringmendapat tekanan. Terutama bila tekanan itu terus-menerus dan disertai kelembapanoleh keringat atau ekskreta, seperti pada bokong, fosa politea, lutut, buku kaki, paha, lipat paha, dan sebagainya. Perubahan kulit demikian dimulai dengan bercak-bercak kecil merah yang dalam waktu singkat bertambah dan berpadu untuk menjadi hitam.Pada suatu saat mengelupas dan memperlihatkan bagian-bagian yang tidak mengandung pigmen, dibatasi oleh tepi yang masih hitam oleh hiperpigmentasi.
g.      Kelainan gigi dan tulang: Pada tulang penderita kwashiorkor didapatkan dekalsifikasi, osteoporosis, dan hambatan pertumbuhan. Sering juga ditemukan caries pada gigi penderita.
h.      Kelainan hati: Pada biopsi hati ditemukan perlemakan, bisa juga ditemukan biopsi hati yang hampir semua sela hati mengandung vakuol lemak besar. Sering juga ditemukan tanda fibrosis,nekrosis, da infiltrasi sel mononukleus. Perlemakan hati terjadi akibat defisiensi faktor lipotropik.
i.        Kelainan darah dan sum-sum tulang: Anemia ringan selalu ditemukan pada penderita kwashiorkor. Bila disertai penyakit lain, terutama infestasi parasit ( ankilostomiasis, amoebiasis) maka dapat dijumpai anemia berat. Anemia juga terjadi disebabkan kurangnya nutrien yang penting untuk  pembentukan darah seperti Ferum, vitamin B kompleks (B12, folat, B6). Kelainan dari pembentukan darah dari hipoplasia atau aplasia sumsum tulang disebabkan defisiensi protein dan infeksi menahun. Defisiensi protein juga menyebabkan gangguan pembentukan sistem kekebalan tubuh. Akibatnya terjadi defek umunitas seluler, dangangguan sistem komplimen.
j.        Kelainan pankreas dan kelenjar lain: Di pankreas dan kebanyakan kelenjar lain seperti parotis, lakrimal, saliva dan usus halus terjadi perlemakan.
k.      Kelainan jantung: Bisa terjadi miodegenerasi jantung dan gangguan fungsi jantung disebabkan hipokalemidan hipmagnesemia.
l.        Kelainan gastrointestinal: Gejala gastrointestinal merupakan gejala yang penting. Anoreksia kadang-kadang demikian hebatnya, sehingga segala pemberian makanan ditolak dan makanan hanya dapat diberikan dengan sonde lambung. Diare terdapat pada sebagian besar penderita. Hal ini terjadi karena 3 masalah utama yaitu berupa infeksi atau infestasi usus,intoleransi laktosa, dan malabsorbsi lemak. Intoleransi laktosa disebabkan defisiensi laktase. Malabsorbsi lemak terjadi akibat defisiensi garam empedu, konyugasi hati, defisiensi lipase pankreas, dan atrofi villi mukosa usus halus. diare dan muntah karena terjadinya intoleransi makanan.
mln 1

6. PENATALAKSANAAN
Prinsip pengobatan kwashiorkor adalah:
a.       Memberikan makanan yang mengandung banyak protein bernilai biologi tinggi, tinggi kalori, cukup cairan, vitamin dan mineral.
b.      Makanan harus mudah dicerna dan diserap.
c.       Makanan diberikan secara bertahap, karena toleransi terhadap makanan sangat rendah.
d.      Penanganan terhadap penyakit penyerta.
e.       Tindak lanjut berupa pemantauan kesehatan penderita dan penyuluhan gizi terhadap keluarga.
Pemberian terapi
a.       Bila ada dehidrasi, atasi dahulu.
b.      Perbaiki diit:
Formula harus mudah dicerna, murah, pekat kalori/protein: Modisco I, II, dan III memenuhi syarat-syarat tertentu. Bila ada intoleransi, mulailah dengan susu skim yang diencerkan (2,5-5-7,5) + glukosa 5%, disusul dengan modisco ½. I, II, III.
c.       Vitamin A 100.000-200.000 IU  IM 1 kali.
Vitamin B komplek, C, A, D tetes per oral.
d.      Bila perlu beri transfusi sel darah merah padat (‘PRC’) atau plasma.
Pengobatan penyakit penyerta/ penyebab. Bila lemah, ada hipotermi, hipertensi dan gangguan  pembekuan darah ada kemungkinan infeksi kuman gram negatif serta endotoksemia. Resiko meningkat bila disertai kekurangan vitamin A.
e.       Terapi gentamicin 6-7,5 mg/kg perhari dibagi 2 kali Amikin 15 mg/kg/hari dibagi 2 kali.
f.       Penyuluhan pada ibu disertai demonstrasi cara membuat modisco.
g.      Kontrol di poliklinik anak.


7. KOMPLIKASI
Anak dengan kwashiorkor akan lebih mudah untuk terkena infeksi dikarenakan lemahnyasistem imun. Tinggi maksimal dan kempuan potensial untuk tumbuh tidak akan pernah dapatdicapai oleh anak dengan riwayat kwashiorkor. Bukti secara statistik mengemukakan bahwak washiorkor yang terjadi pada awal kehidupan (bayi dan anak-anak) dapat menurunkan IQ secara permanen juga dapat terjadi Diare, infeksi, anemia, gangguan tumbuh kembang, hipokalemi dan hipernatremi.

8. PENCEGAHAN
Karena kwashiorkor merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh defesiensi protein, jadi pencegahan yang dapat dilakukan agar anak tidak mengalami penyakit ini yaitu memperbaiki asupan protein kepada makanan anak.
Pencegahannya dapat berupa diet adekuat dengan jumlah-jumlah yang tepat dari karbohidrat, lemak (minimal 10% dari total kalori), dan protein (12 % dari total kalori). Sentiasa mengamalkan konsumsi diet yang seimbang dengan cukup karbohidrat, cukup lemak dan protein bisa mencegah terjadinya kwashiorkor. Protein terutamanya harus disediakan dalam makanan. Untuk mendapatkan sumber protein yang bernilai tinggi bisa didapatkan dari protein hewan seperti susu, keju, daging, telur dan ikan. Bisa juga mendapatkan protein dari protein nabati seperti kacang ijo dan kacang kedelei.

9. PROGNOSA
Dengan pengobatan adekuat, diperlukan waktu 2-3 bulan untuk tercapainya berat badan yang ideal. Pertumbuhan fisis hanya terpaut sedikit dengan anak sebayanya. Namun perkembangan intelektualnya akan mengalami keterlambatan yang menetap, khususnya kelainan mental dan defisiensi persepsi.

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1.    PENGKAJIAN
Pengkajian adalah pendekatan sitemik untuk mengumpulkan data dan menganalisa sehingga dapat diketahui kebutuhan pasien tersebut. Langkah-langkah dalam pengkajian meliputi pengumpulan data, analisa dan sintesa data serta perumusan diagnosa keperawatan. Pengumpulan data akan menentukan kebutuhan dan masalah kesehatan dan keperawatan yang meliputi kebutuhan fisik, psikososial dan lingkungan pasien, sumber data diperoleh dari pasien, keluarga, teman, team kesehatan lain, catatan pasien dan hasil pemeriksaan laboratorium.
Metode pengumpulan data melalui observasi (yaitu dengan cara inspeksi, palpasi, auskultasi, perkusi) wawancara ( yaitu berupa percakapan guna memperoleh data yang diperlukan), catatan (berupa catatan klinik, dokumen yang baru maupun yang lama).
a.       Anamnese
1)      Identitas pasien
Meliputi:  nama, umur, jenis kelamin, berat badan, tinggi badan saat pengkajian, nama orang tua, pekerjaan orang tua, pendidikan orang tua, umur orang tua, agama, jumlah saudara kandung, jumlah anggota keluarga, alamat rumah.
2)      Riwayat penyakit sekarang
Kapan anak mulaimenampakan tanda-tanda penyakit kwashiorkor ini, seperti mulai kapan kulit anak mengelupas, rambut berubah warna, tampak adema seluruh tubuh, diare, dan bagaimana nafsu makan anak.
3)      Riwayat kesehatan
Riwayat pre natal selama masa hamil, riwayat natal, keadan saat persalinan, dengan menolong persalinan, berat badan, dan panjang badan saat lahir, keadaan setelah lahir, riwayat neonatal, riwayat imunisasi, dan riwayat tumbang.
4)      Riwayat penyakit dahulu
Apakah anak menderita penyakit sampai diopname, penyakit apa dan berapa lama dirawat serta bagaimana pengobatannya.
5)      Riwayat keluarga
Apakah ada anggota keluarga lain yang menderita penyakit yang sama dengan pasien, atau menderita penyakit seperti asma, TBC, jantung, DM.
6)      Pola-pola fungsi kesehatan meliputi;
a)      Pola nutrisi  : Bagaimana pola makan sehari-hari anak, jenis makanan yang dikonsumsi, dan bagaimana nafsu makan.
b)      Pola Eliminasi : Bagaimana aktivitas eliminasi alvi dan miksi sehari-hari, apakah ada keluhan, adakah diare, berapa lama.
c)      Pola aktivitas : Kebiasaan aktivitas kegiatan yang dilakukan sehari-hari, apakah ada gangguan aktivitas setelah sakit.
d)     Pola istirahat dan tidur : berapa lama anak biasa tidur, apakah ada gangguan atau tidak.
b.      Pengkajian fisik
1)   Keadaan umum yang meliputi: kesadaran Composmentis, lemah, rewel, kebersihan kurang, berat badan, tinggi badan, nadi, suhu, dan pernapasan.
2)   Kepala: lingkar kepala, warna rambut, UUB sudah menutup atau belum 
3)   Muka : sembab karena odema, tampak moonface
4)   Mata : apakah ada ikterus, anemi ataupun infeksi pada mata
5)   Telinga : apakah ada tanda-tanda infeksi
6)   Hidung : apakah ada sekret, bagaimana pernapasannya, terpasang sonde
7)   Mulut : Stomatitis, lesi, mukosa bibir, gigi tumbuh
8)   Tenggorokan : apakah ada tanda pembesaran tonsil, tanda-tanda peradangan.
9)   Leher : apakah ada pembesaran kelenjar tyroid, kaku kuduk, pembesaran kelenjar limfe.
10)     Torax  : apakah ada lingkar dada, adakah tarikan dinding dada, wheezing, ronchi.
11)     Abdomen  : apakah ada meteorismus, acites, bising usus, apakah ada pembesaran hepar.
12)     Extremitas atas      : Lingkar lengan atas, akral hangat, odema
    extremitas Bawah : Odema
13)     Kulit : adakah Crazy pavement dermatosis, keadaan turgor kulit, odema
c.       Pemeriksaan Penunjang
1)   Pada pemeriksaan laboratorium, anemia selalu ditemukanterutama jenis normositik normokrom karenaadanya gangguan sistem eritropoesis akibat hipoplasia kronis sum-sum tulang di samping karena asupan zat besi yang kurang dalam makanan, kerusakanhati dan gangguan absorbsi. Selain itu dapat ditemukan kadar albumin serum yangmenurun.
2)   Pemeriksaan radiologis juga perlu dilakukan untuk menemukan adanya kelainan pada paru.
3)   Pemeriksaan urine
Pemeriksaan urine meliputi urine lengkap dan kulture urine 
a)      Uji faal hati
b)      EKG
c)      X foto paru
d)     Konsul THT : adanya otitis media
Setelah dilakukan pengkajian, kemudian data dikelompokan yang meliputi data subyektif dan obyektif. Selanjutnya data dianalisa dengan mengkaitkan, menghubungkan data yang diperoleh dengan konsep, teori, prinsip yang relevan untuk mengetahui masalah kesehatan pasien. Selanjutnya diidentifikasi sesuai dengan prioritas masalah-masalah yang mengancam jiwa, merusak sistem jaringan maupun merusak fungsi organ.
































2.      DIAGNOSA
Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang jelas, singkat dan pasti tentang masalah pasien/klien serta penyebabnya yang dapat dipecahkan atau diubah melalui tindakan keperawatan.
Diagnosa keperawatan yang mungkin dapat ditemukan pada anak dengan Kwashiorkor adalah:
a.       Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d asupan protein  yang tidak adekuat, anoreksia dan diare.
b.      Kekurangan volume cairan b/d penurunan asupan peroral dan peningkatan kehilangan akibat diare.
c.       Gangguan penurunan berat badan berhubungan dengan asupan protein yang tidak adekuat.
d.      Gangguan integritas kulit berhubungan dengan defesiensi protein , dehidrasi, dan posisi klien.

3.      INTERVENSI
Penentuan apa yang akan dilakukan untuk membantu klien memenuhi kebutuhan kesehatannya dan mengatasi masalah keperawatan yang telah ditentukan. Rencana ini disusun dengan melibatkan klien secara maksimal dan dengan petugas lain yang melayani pasien/klien. Unsur tahap pelayanan ada 4, yaitu: memprioritaskan masalah, perumusan tujuan, penentuan tindakan keperawatan dan penentuan kriteria evaluasi.

a.       Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d asupan yang tidak adekuat, anoreksia dan diare.
Tujuan: Klien akan menunjukkan pening-katan status gizi.
Kriteria hasil: Keluarga klien dapat menjelaskan penyebab gangguan nutrisi yang dialami klien,kebutuhan nutrisi pemulihan, susunan menu dan pengolahan makanan sehat seimbang.Dengan bantuan perawat, keluarga klien dapat mendemonstrasikan pemberian diet (per sonde/per oral) sesuai program dietetik.
INTERVENSI
RASIONAL
1.    Jelaskan kepada keluarga tentang penyebab malnutrisi, kebutuhan nutrisi pemulihan, susunan menu dan pengolahan makanan sehatseimbang, tunjukkan contoh jenis sumber makanan ekonomis sesuai status sosial ekonomi klien
2.    Tunjukkan cara pemberian makanan per sonde, beri kesempatan keluarga untuk melakukannya sendiri.
3.    Laksanakan pemberian roborans sesuai programterapi.
4.    Timbang berat badan, ukur lingkar lengan atasdan tebal lipatan kulit setiap pagi
1.      Meningkatkan pemahaman keluarga tentang penyebab dan kebutuhan nutrisi untuk  pemulihan klien sehingga dapatmeneruskan upaya terapi dietetik yangtelah diberikan selama hospitalisasi
2.      Meningkatkan partisipasi keluarga dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi klien,mempertegas peran keluarga dalam upaya pemulihan status nutrisi klien
3.      Roborans meningkatkan nafsu makan, proses absorbsi dan memenuhi defisit yangmenyertai keadaan malnutrisi.
4.      Menilai perkembangan masalah klien

b.      Kekurangan volume cairan tubuh b/d penurunan asupan peroral dan peningkatan kehilangan akibat diare.
Tujuan: Klien akan menunjukkan keadaan hidrasi yang adekuat.
Kriteria hasil: Asupan cairan adekuat sesuai kebutuhan ditambah defisit yang terjadi.Tidak ada tanda/gejala dehidrasi (tanda-tanda vital dalam batas normal, frekuensi defekasi ≤1 x/24 jam dengan konsistensi padat/semi padat)




INTERVENSI
RASIONAL
Lakukan/observasi pemberian cairan per infus/sonde/oral sesuai program rehidrasi.Jelaskan kepada keluarga tentang upaya rehidrasi dan partisipasi yang diharapkan dari keluarga dalam pemeliharan patensi pemberian infus/selang sonde. Kaji perkembangan keadaan dehidaras iklien. Hitung balans cairan.
Upaya rehidrasi perlu dilakukan untuk mengatasimasalah kekurangan volume cairan.Meningkatkan pemahaman keluarga tentang upayarehidrasi dan peran keluarga dalam pelaksanaan terpirehidrasi.Menilai perkembangan masalah klien.Penting untuk menetapkan program rehidrasiselanjutnya.

c.       Gangguan penurunan berat badan berhubungan dengan asupan  protein yang tidak adekuat.
Tujuan: Klien akan mencapai pertumbuhan dan perkembangan sesuai standar usia.
Kriteria Hasil :Pertumbuhan fisik (ukuran antropometrik) sesuai standar usia.Perkembangan motorik, bahasa/ kognitif dan personal/sosial sesuai standar usia
INTERVENSI
RASIONAL
1.      Ajarkan kepada orang tua tentang standar pertumbuhan fisik dan tugas-tugas perkembangan sesuai usia anak.
2.      Lakukan pemberian makanan/ minuman sesuai program terapi diet pemulihan.
3.      Lakukan pengukuran antropo-metrik secara berkala.
4.      Lakukan stimulasi tingkat perkembangan sesuai dengan usia klien.
5.      Lakukan rujukan ke lembaga pendukung stimulasi pertumbuhandan perkembangan (Puskesmas/Posyandu)
1.      Meningkatkan pengetahuan keluarga tentang keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan anak.
2.       Diet khusus untuk pemulihan malnutrisi diprogramkan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan anak dankemampuan toleransi sistem pencernaan.
3.      Menilai perkembangan masalah klien.
4.      Stimulasi diperlukan untuk mengejar keterlambatan perkembangan anak dalam aspek motorik, bahasa dan personal/sosial.
5.      Mempertahankan kesinambungan program stimulasi pertumbuhan dan perkembangan anak denganmemberdayakan sistem pendukung yang ada.

d.      Gangguan integritas kulit berhubungan dengan defesiensi protein, dehidrasi, dan posisi klien.
Tujuan: Integritas kulit kembali normal.
Kriteria hasil:  Gatal hilang/berkurang.
Kulit kembali halus, kenyal dan utuh.
INTERVENSI
RASIONAL
1.      Anjurkan pada keluarga tentang pentingnya merubah posisi sesering mungkin.
2.      Anjurkan keluarga lebih sering mengganti pakaian anak bila basah atau kotor dan kulit anak tetap kering.
3.      Anjurkan kepada klien makan makanan yang bergizi khususnya yang mengandung protein

1.      Mencegah ulcus decubitus
2.      Mencegah iritasi kulit dan mengurangi gatal.
3.      Agar kebutuhan nutrisi terpenuhi


4. EVALUASI
Tahap evaluasi dalam proses keperawatan menyangkut pengumpulan data obyektif dan subyektif yang akan menunjukan apakah tujuan pelayanan keperawatan sudah dicapai atau belum, masalah apa yang sudah dipecahkan dan apa yang perlu dikaji, direncanakan, dilaksanakan dan dinilai kembali. Evaluasi yang diharapkan dari kasus ini adalah: 
a.    Kebutuhan nutrisi terpenuhi
b.    Diare dan muntah teratasi serta adekuatnya masukan makanan dan cairan sehingga tidak terjadi kekurangan volume cairan tubuh.
c.    Kebutuhan protein dapat terpenuhi secara adekuat sehingga tidak mengganggu pertubuhan dan perkembangannya.
d.   Kulit kembali halus dan utuh serta terbebas dari kerusakan integrasi kulit.



















BAB III
PENUTUP
A.  KESIMPULAN
Gejala yang dijumpai pada anak yang menderita kwashiorkor, diantaranya anak apatis, rambut kepala halus dan jarang, berwarna kemerahan kusam tidak hitam mengkilat seperti pada anak sehat pada umumnya, rambut ini seringkali sangat mudah dicabut tanpa rasa sakit oleh penderita. Kemudian mungkin terdapat udema, tetapi tidak selalu gejala ini terdapat, meskipun dianggap bahwa adanya oedema lebih memperkuat diagnosa kwashiorkor.
Kwashiorkor merupakan sindrom klinis akibat dari defisiensi protein berat dan masukan kalori yang tidak cukup. Dari kekurangan masukan atau dari kehilangan yang berlebihan atau kenaikan angka metabolik yang disebabkan oleh infeksi kronik, akibat defisiensi vitamin dan mineral dapat turun menimbulkan tanda-tanda dan gejala-gejala tersebut  membentuk malnutrisi yang paling serius dan paling menonjol di dunia saat ini terutama berada di daerah industri belum berkembang kwashiorkor berarti “anak tersingkir”, yaitu anak yang tidak lagi menghisap, dapat menjadi jelas sejak masa bayi awal sampai sekitar usia 5 tahun, biasanya sesudah menyapih dari ASI. Walaupun penambahan tinggi dan berat badan anak yang secara tetap bergizi-baik.
Bukti klinik awal malnutrisi protein tidak jelas tetapi meliputi letargi, apatis, atau iritabilitas. Bila terus maju, mengakibatkan pertumbuhan tidak cukup, kurang stamina, kehilangan jaringan muskular, bertambah kerentanan terhadap infeksi, dan udem. Immunodefisiensi sekunder merupakan salah satu dari manifestasi yang paling serius dan konstan. Misalnya, campak, penyakit yang relatif benigna anak gizi baik, dapat memburuk dan mematikan pada anak malnutrisi. Pada anak dapat terjadi anoreksia, kekenduran jaringan subkutan, dan kehilangan tonus otot. Hati membesar dapat terjadi awal atau lambat, sering adanya infiltrasi lemak. Udem biasanya terjadi awal, penurunan berat badan mungkin ditutupi oleh udem yang sering ada dalam organ dalam sebelum dapat dikenali pada muka dan tungkai. Aliran plasma ginjal, angka filtrasi glomerulus, dan fungsi tubulur ginjal menurun. Jantung mungkin kecil pada awal stadium penyakit tetepi biasanya kemudian membesar.
Sering ada dermatis. Penggelapan kulit tampakk pada daerah yang teriritasi, tetapi tidak ada pada daerah yang terpapar sinar matahari, berlawanan dengan keadaan pada Pellagra. Dispegmentasi dapat terjadi pada daerah ini sesudah desquamasi atau dapat generalisata, rambut sering jarang dan tipis dan kehilangan sifat elastisnya. Pada anak yang berambut hitam, dispegmentasi menghasilkan coret-coret merah atau abu-abu pada warna rambut (hipokromotricial). Anyaman rambut menjadi kasar pada penyakit kronik.
Infeksi dan investasi parasit sering ada, sebagaimana halnya anoreksia, muntah dan diare terus menerus, otot menjadi lemah, tipis dan atrofi. Tetapi kadang-kadang mungkin ada kelebihan lemak subkutan. Perubahan mental, terutama iritabilitas dan apati sering ada. Stupor, koma, dan meninggal dapat menyertai.
Diagnosa keperawatan yang mungkin dapat ditemukan pada anak dengan Kwashiorkor adalah:
a.       Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d asupan yang tidak adekuat, anoreksiadan diare.
b.      Kekurangan volume cairan b/d penurunan asupan peroral dan peningkatan kehilangan akibat diare.
c.       Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b/d asupan protein yang tidak adekuat.

B.  SARAN
                 Dengan dibuatnya makalah ini, diharap mahasiswa paham tentang bagaimana promosi dan preventif dari masalah gizi serta bagaimana merealisasikannya terhadap diri sendiri kususnya dan mayarakat umumnya.
       Juga di harapkan kepada pembuat makalah sesudahnya agar lebih memperbayak lagi referensi yang digunakan agar data yang didaptkan lebih valid lagi.

 


DAFTAR PUSTAKA

ARISMAN, 2010, Gizi Dalam Daur Kehidupan:. EGC. Jakarta
Djaeni, Sediaoetama achmad, 2010, Ilmu Gizi Untuk Mahasiswa Dan Profesi; EGC, jakarta
Malnutrisi Energi Protein-MEP-Kwashiorkor [on-line]. Tersedia

Malnutrisi Energi Protein-MEP-Kwashiorkor [on-line]. Tersedia

Yulianni Rita & Suriyadi, 2006, Askep Pada Anak: Sagung Seto, jakarta