Jumat, 25 April 2014

ebola virus infeksion



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  LATAR BELAKANG
Negara Zaire menjadi perhatian dunia karena di sana banyak penderita meninggal akibat serangan Demam Berdarah Ebola (DBE). DBE disebabkan oleh semacam virus ganas yang relatif baru, yaitu virus Ebola. Virus ini sudah disolasi sejak tahun 1967 dari penderita-penderita di Jerman dan Yugoslavia, yang kemudian ternyata terinfeksi dari monyet yang berasal dari Uganda. Nama Ebola diambil dari nama sebuah sungai di Zaire asal virus tersebut diisolasi pertama kali. Beberapa negara di Afrika juga pernah terserang Demam Berdarah Ebola. Kekhawatiran muncul bila virus ini menular ke negara lain yang dimungkinkan oleh sistem transportasi yang serba canggih.
Di Kongo Barat Laut 5000 ekor gorila mati akibat terinfeksi virus Ebola, yang memusnahkan hampir separuh populasi hewan yang terancam punah. Simpanse juga banyak yang mati akibat virus ini. Para ahli menyatakan bahwa virus Ebola yang sangat menular ini terutama tersebar melalui kontak antar kelompok gorila dan simpanse, bahkan manusia juga bisa terinfeksi oleh virus Ebola. Virus ini pertama kali ditemukan tahun 1976 di Kongo, dan sejauh ini hanya ditemukan di Afrika saja. Wabah virus Ebola terakhir di Uganda pada Oktober 2000, ketika 173 orang meninggal dan total 426 orang terdiagnosis mengidap virus itu di Uganda bagian utara. Penularan virus Ebola hanya terjadi melalui kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh.
Kebanyakan orang yang terinfeksi virus ini akan meninggal dunia, karena sampai sekarang virus ini belum ditemukan vaksin yang bisa mencegah infeksi oleh virus ini. Di Tiongkok jumlah korban penyakit misterius yang baru-baru ini melanda Propinsi Sichuan, telah mencapai 163 kasus, dimana 32 korban meninggal dan 27 dalam keadaan kritis. Gejala-gejala penyakit tersebut telah menimbulkan dugaan di kalangan para ahli, bahwa virus Ebola merupakan penyebabnya.
WHO menyatakan lebih dari 1.000 orang meninggal karena Ebola sejak virus itu pertama kali teridentifikasi pada 1976 di Sudan dan Kongo. Bisaanya wabah bisa diatasi dengan cepat karena virus ini membunuh korbannya lebih cepat sebelum menular ke individu lain. Sampai saat ini, tercatat sekitar 1.500 kasus demam akibat virus Ebola terjadi di seluruh dunia. Gejala awal sakit akibat virus ini antara lain berupa demam, sakit kepala, tenggorokan kering, lemas, pilu otot, diare, dan sakit perut.
Di Indonesia, sampai dengan saat ini belum ada yang dilaporkan terinfeksi oleh virus Ebola. Akan tetapi, dengan kemajuan sistem transfortasi pada saat ini, tidak menutup kemungkinan virus Ebola bisa mewabah di Indonesia. Untuk itu, diperlukan usaha pencegahan yang bisa diterapkan untuk mencegah masuknya virus Ebola di Indonesia mengingat virus ini sangat mudah menular dan sangat mematikan karena sampai sekarang belum ditemukan vaksin yang bisa mencegah infeksi oleh virus Ebola.

1.2  TUJUAN PENULISAN
Tujuan yang ingin dicapai pada penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui ciri-ciri dan struktur virus Ebola, cara mendeteksi virus Ebola, gejala  demam Ebola, cara penularan virus Ebola, upaya pencegahan, upaya pengobatan dan rehabilitasi bagi mantan penderita demam Ebola.

1.3  MANFAAT PENULISAN
Manfaat yang diharapkan dari hasil penulisan makalah ini adalah menambah pengetahuan pembaca mengenai penyakit demam ebola, mulai dari ciri-ciri dan struktur virus Ebola, cara mendeteksi virus Ebola, gejala  demam Ebola, cara penularan virus Ebola, upaya pencegahan, upaya pengobatan dan rehabilitasi bagi mantan penderita demam Ebola.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1.    DEFENISI
Virus Ebola merupakan suatu virus dari famili filovirus genus filoviridae, dan dapat menyebabkan demam hemoroik (ebola hemorrhagic fever) yang hebat pada manusia. Ebola merupakan penyakit menular yang mematikan. Virus ini pertama kali ditemukan di Afrika tepatnya di Zaire, dan dapat menyerang monyet, kera, simpanse, dan terutama manusia.
Virus Ebola menyebabkan demam hemorrhagic. Semenjak dikenal tahun 1976, VirusEbola menyebabkan penyakit yang fatal pada manusia maupun binatang primata (monyet, gorila dan simpanse). Dinamakan Virus Ebola karena ditemukan pada sungai yang bernama Ebola juga yang terletak di daerah Republik Demokratik Kongo (sekarang Zaire).
Demam Berdarah Ebola (Demam Hemorrhagic) adalah penyakit disebabkan oleh suatu virus yang termasuk kedalam keluarga Filoviridae. Para ilmuwan sudah mengidentifikasi empat jenis virus Ebola. Tiga telah dilaporkan dapat menyebabkan penyakit pada manusia, yaitu virus Ebola Zaire, virus Ebola Sudan, dan virus Ebola Ivory. Virus-virus ini telah menyebabkan penyakit pada manusia di negara-negara Afrika. Jenis keempat dari virus Ebola ini yaitu virus Ebola Reston, yang ditemukan Reston, Virginia Amerika Serikat. Ternyata virus ini tidak menyebabkan penyakit pada manusia. Subtipe ini ditemukan pada sejenis monyet macaca yang didatangkan dari Filipina.
2.    KARAKTERISTIK
Virus Ebola termasuk kedalam genus Ebolavirus, familia Filoviridae yang merupakan salah satu daripada dua kumpulan virus RNA benang-negatif. Virus Filo mempunyai bentuk biologi seperti morfologi, kepadatan, dan profile elektrophoresis gel polyacrylamide. Virus ini telah dikelaskan kepada virus paramyxo dengan menggunakan kaedah urutan DNA. Familia Filoviridae memiliki garis tengah 800 nm, dan pajang mecapai 1000 nm.
Virus Ebola mengandung molekul lurus, bebenang RNA negatif, yang tidak bersendi. Semua genome virus Filo mempunyai ciri-ciri serupa, dan mempunyai banyak sisa adenosine dan uridine. Gen virus Ebola mengandung transkrip urutan tetap pada 3′ dan transkrip urutan terakhir pada 5′. Perbedaan di antara virus Ebola dan virus Marburg adalah, virus Ebola menunjukkan tiga penumpukan yang berselang di antara turutan antara-gen (intergenetic) sementara virus Marburg hanya mempunyai satu penumpukan yang kedudukannya berbeda dengan virus Ebola. Virus Filo secara morfologi menyerupai bentuk virus rhabdo, akan tetapi virus Filo mempunyai ukuran yang lebih panjang. Apabila dilihat dengan menggunakan mikroskop elektron, bentuk virus Filo seperti berfilament (berbenang halus), atau kelihatan bercabang. Terdapat juga virus yang berbentuk "U", "b" dan berbentuk bundar.
Virus Ebola terdiri dari tujuh polypeptida diantaranya RNA genome ca. 19.0 kb, yang mencakup Glycoprotein (GP), Nucleoprotein (NP), RNA-DEPENDENT RNA Polymerase (L), VP35, VP30, VP40, dan VP24.

3.    REPRODUKSI
Reproduksi virus Ebola baru terjadi saat virus masuk ke dalam sel inang. Berikut ini merupakan siklus reproduksi virus Ebola:       
1.      Virus berikatan dengan reseptor inang dengan permukaan GP (glikoprotein) peplomer dan berendisitosis ke dalam vesikel sel inang.
2.      Penyatuan membran virus dengan membrane vesikel terjadi. Nukleokapsid terlepas ke dalam sitoplasma  
3.      Rantai gen sense negative ssRNA digunakan untuk sintesis (3’-5’) poliadenilase,monocistronic mRNAs 
4.      Translasi mRNA menjadi protein viral terjadi dengan menggunakan perlengkapan sel inang.
5.      Terjadi Post-translasi dari mRNA. Prekursor glikoprotein (GP0) berikatan erat dengan GP1 dan GP2. Kedua glikoprotein ini, pertama, berpasangan sebagai heterodimer  kemudian menjadi trimer. Prekursor SGP berikatan erat pula dengan SGP dan delta peptida.
6.      Bila protein viral jumlahnya makin meningkat maka terjadilah replikasi. Dengan memakai rantai RNA sense negative, (+)ssRNA disintesis. Sintesis (+)ssRNA berfungsi untuk mensintesis (-)ssRNA. 
7.      Terbentuknya nukleokapsid baru dan selimut protein yang berasosiasi dengan plasma membran sel inang; virion terlepas.
4.    GEJALA KLINIS
Gejala awal yang ditimbulkan oleh ebola sama dengan gejala Influenza, yaitu :  demam, menggigil dan sakit kepala, nyeri otot dan nafsu makan hilang. 
Gejala ini muncul setelah 3 hari terinfeksi. 
A.    Setelah itu virus ebola mulai berreplikasi. Virus ebola menyerang darah. Sel darah yang mati akan menyumbat kapiler darah dan menyebabkan kulit memar, melepuh bahkan larut seperti kertas basah.
B.     Pada hari ke-6 darah keluar dai mata, hidung, dan telinga. Selain itu penderita memuntahkan cairan hitam yang merupakan jaringan dalam tubuh yang hancur.
C.     Pada hari ke-9 bisaanya penderita meninggal dunia.
5.    PATOFISIOLOGI
Virus Ebola adalah virus yang dapat menyebar dengan sangat cepat dan dapat menyebar melalui penggunaan jarum suntik yang tidak disterilkan atau melakukan kontak dengan seseorang yang terkena infeksi atau mayat orang yang sudah meningggal karena terserang Virus Ebola.
Cara infeksi virus Ebola dalam tubuh manusia adalah sebagai berikut. Pertama, sekitar satu minggu setelah infeksi atau peradangan, virus mulai menyerang darah dan sel hati. Kedua, penyakit akan menyebar secara cepat keseluruh tubuh, virus akan menghancurkan organ atau bagian tubuh yang penting seperti hati dan ginjal. Ketiga, infeksi virus Ebola akan menyebabkan atau mendorong terjadinya pendarahan internal secara besar-besaran (masive). Keempat, Virus Ebola akan menghambal kerja sistem pernapasan, yang dapat menyebabkan kematian seketika pada pasien. Cara penularan atau infeksi virus Ebola pada manusia

Gambar 5. Mekanisme Infeksi Virus Ebola

6.    PENULARAN
Penularan ebola yaitu melalui kontak fisik dengan cairan tubuh, sekresi, dan semen dari orang yang terinfeksi. Penularan yang terjadi di rumah sakit atau klinik merupakan bentuk penularan yang sering terjadi. Penyakit Ebola dapat ditularkan lewat kontak langsung dengan cairan tubuh atau kulit. Masa inkubasinya dari 2 sampai 21 hari, umumnya antara 5 sampai 10 hari. Saat ini telah dikembangkan vaksin untuk Ebola yang 100% efektif dalam monyet, namun vaksin untuk manusia belum ditemukan.

7.    DIAGNOSA
Ketika membuat diagnosis Ebola, dokter akan bertanya tentang riwayat kesehatan pasien dan melakukan pemeriksaan fisik. Diagnosa awal Ebola bisa sulit, karena fakta bahwa gejala awal Ebola dapat serupa dengan yang terlihat dengan kondisi medis lainnya. Dokter mungkin meminta tes laboratorium yang dapat mengidentifikasi virus itu sendiri atau antibodi yang membuat tubuh untuk melawan virus Ebola. Mendiagnosis demam Ebola awal seseorang bisa sulit. Seseorang yang telah terinfeksi hanya beberapa hari akan mengalami gejala awal Ebola, seperti mata merah dan ruam kulit, yang tidak spesifik untuk virus Ebola dan terlihat pada pasien lain dengan kondisi yang terjadi jauh lebih sering. Namun, bila gejala yang dijelaskan tadi sudah terlihat jelas, sebaiknya segera isolasi pasien dan hubungi Departemen Kesehatan setempat.
8.    PEMERIKSAAN PENUNJANG
Infeksi virus ebola hanya dapat didiagnosis secara defenitif dalam laboraturium dengan sejumlah tes yang berbeda, menurut world health organization:
A.    Essay enzim-linked immunosorbent (ELIZA)
B.     Tes deteksi antigen
C.     Tes netralisasi serum
D.    Reverce transcriptase polimerase chain (RT-PCR) essay
E.     Isolasi virus dengan kultur sel
Pengujian pada sampel pada pasien merupakan biohazard (resiko terhadap kesehatan manusia atau lingkungan yang timbul dari kerja biologis) ekstrim dan hanya boleh di lakukan dalam kondisi penahanan biologis maksimum.
Kasus yang parah memerlukan perawatan suportif intesif. Pasien sering mengalami dehidrasi dan membutuhkan cairan intravena atau rehidrasi oral dengan larutan yang mengandung elektrolit.
Dengan tidak adanya pengobatan yang efektif dan vaksin manusia, meningkatkan kesadaran terhadap faktor infeksi ebola dan upaya perlindungan individu adalah satu-satunya cara untuk mengurangi infeksi dan kematian.
Untuk mendeteksi apakah seseorang terinfeksi virus Ebola, dapat dilakukan pengujian antigen-capture enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA), IgG ELISA, polymerase chain reaction (PCR), dan mengisolasi virus Ebola yang bisa dilakukan untuk mengetahui adanya virus Ebola dalam tubuh manusia
Mendeteksi penyebab penyakit cacar air (small pox), Anthrax, dan Virus Ebola, pada saat ini bisa dilakukan dengan mudah, dan hasil identifikasinya dapat langsung disebarluaskan melalui jaringan telepon genggam. Teknologi yang dikembangkan Fraunhofer Institute for Silicon Teknologi, sebuah perusahaan inovasi teknologi mikrobiologi dan mikrokomputer dari Jerman ini menyebutnya dengan eBiochipstick. Alat ini cukup mengambil DNA atau bagian tubuh atau benda yang diduga terinfeksi bakteri, lalu dimasukkan sebuah kotak seukuran tv 10 inc (eBiochip Adaptor). Instrumen yang bekerja dengan bantuan komputer portabel ini, dengan mudah kemudian mendeteksi kadar virus, racun, bakteri, atau patogen, yang telah menjangkiti tubuh manusia, atau hewan. Alat ini diberi nama, eBiochip System Portable Instrument. Alat ini dengan cepat akan mendeteksi jenis spora, dan mendeteksi virus Ebola lewat perangkat eBiochipstick. Alat untuk mendeteksi dan menganalisis jenis bakteri, virus, atau racun berbahaya dalam tubuh manusia cukup dengan sebuah chip seukuran disket HDD yang tebalnya tak lebih dari koin Rp 500,- dan mengurai protein dengan analisis akurat.
Berdasarkan data departemen ketahanan biologi Amerika, stidaknya ada tujuh jenis racun, bakteri patogenik yang bisa dideteksi alat ini. Selain bakteri antrax dan smal pox (cacar air), eBiochip ini juga bisa mendeteksi plague, hepatitis C, tularemia, brucellus, Q-fever, dan virus Ebola (virale hemorhagic fever). Bahkan bakteri penyakit anthrax yang sporanya bisa bertahan hingga di atas 40 tahun pun masih bisa dideteksi oleh alat ini. Kadar infeksi bakteri penyakit yang bisa menular ke manusia ini dengan dini bisa dideteksi dan diurai kadar racunnya.


9.    PENGOBATAN
Sampai dengan saat ini, belum ditemukan vaksin yang bisa mencegah infeksi oleh virus Ebola. Akan tetapi sekarang sedang di kembangkan pembuatan vaksin yang akan diujikan kepada manusia untuk pertama kalinya adalah vaksin yang sudah memasuki fase uji-klinis. Menurut Sanchez, infeksi virus Ebola di dalam tubuh manusia memang bisa sangat mematikan, tapi monyet berhasil selamat dari infeksi virus tersebut dan ini bisa menjadi contoh yang sangat bermanfaat bagi uji-coba terhadap binatang. Pengujian vaksin Ebola dengan menggunakan primata memberikan perkembangan yang menjanjikan bagi hadirnya vaksin pelindung (www.mediaindonesia.com).
    Ada beberapa hal yang menyebabkan penyebaran penyakit Ebola (Demam Berdarah Ebola) sangat dikhawatirkan, antara lain:
A.    Serangannya muncul secara sangat mendadak
  1. Gejala-gejala klinik sangat berat.
  2. Menimbulkan kematian dalam waktu yang sangat singkat.
  3. Angka kematiannya sangat tinggi yaitu 90-92% dari jumlah penderita.
  4. Karena Virus Ebola mampu berpindah dari penderita ke orang lain, sehingga transportasi sangat mendukung kemungkinan penyebarannya ke berbagai bagian dunia dalam waktu yang sangat singkat.
  5. Belum ada obat yang efektif untuk menyembuhkan Demam Berdarah Ebola.
  6. Vaksin Demam Berdarah Ebola (DBE) hingga kini belum dapat dibuat
Rehabilitasi bagi mantan penderita akibat terinfeksi virus Ebola bisa dilakukan dengan tidak mengasingkan para penderita. Karena menurut para ahli, sebagian besar kematian yang disebabkan oleh virus Ebola di sebabkan oleh adanya tekana secara psikologis. Apabila kita mengasingkan dan menjauhi para penderita atau mantan penderita virus Ebola,  justru hal ini akan semakin memperburuk kondisi kesehatan penderita tersebut. Untuk itulah diperlukan upaya rehabilitasi yang intensif terhadap para penderita virus Ebola agar kondisi fisik dan psikologisnya tetap stabil, sehingga akan memberikan motivasi kepada pasien tersebut untuk secepatnya bisa sembuh dari penyakit yang disebabkan oleh virus Ebola.
Akan tetapi, proses rehabilitasi ini tentunya harus dilakukan secara hati-hati dan lebih waspada, mengingat virus Ebola bisa menular dengan sangat cepat dari penderita kepada orang lain melalui kontak. Rehabilitasi juga sebaiknya dilakukan di tempat yang benar-benar steril, atau pada ruang isolasi khusus sehingga bisa mengurangi kontaminasi yang bisa disebabkan oleh virus Ebola.
Para peneliti masih dibingungkan oleh adanya beberapa orang pasien yang dapat pulih dari EHF dan sebagian lagi tidak. Mungkin ini disebabkan oleh oleh respon imun yang berbeda dari tiap orang terhadap virus. Sebenarnya, tidak ada perawatan khusus terhadap pasien EHF. Para pasien hanya diberi terapi suportif, yang berupa penyeimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh pasien, peningkatan jumlah oksigen, peningkatan tekanan darah dan perawatan dari penyakit komplikasi lain yang mungkin timbul.
Sekarang telah dikembangkan suatu vaksin yang berbasis rekombinan virus stomatitis Vesikular atau rekombinan Adenovirus yang membawa Glikoprotein Ebola pada permukaanya. Pada tahun 2003 sebenarnya telah dikembangkan vaksin NIAID, namun tidak membawa hasil sukses. Masalahnya karena pemberian vaksin yang terlambat (1-4 hari setelah gejala muncul) sehingga tubuh pasien sudah terlalu parah untuk diobati.
10.            PENCEGAHAN
      Pencegahan penularan penyakit Ebola yang antara lain: Menghindari bepergian ke daerah yang tengah dilanda wabah ebola atau daerah yang memiliki riwayat wabah ebola ; Menghindari kontak dengan cairan tubuh pasien/orang yang terinfeksi ebola seperti darah, feses, air liur, cairan muntahan, air kencing, bahkan keringat ; Tidak berhubungan langsung (bersentuhan) dengan pasien ebola ; Bila terpaksa harus kontak langsung (dalam kasus membantu korban penyakit ebola) harus menggunakan pelindung diri (proteksi diri) seperti kaca mata, masker, pakaian khusus, sepatu boot dan sarung tangan.
       Para peneliti masih dibingungkan oleh adanya beberapa orang pasien yang dapat pulih dari EHF (Ebola Hemorrhagic Fever) dan sebagian lagi tidak. Mungkin ini disebabkan oleh oleh respon imun yang berbeda dari tiap orang terhadap virus. Sebenarnya, tidak ada perawatan khusus terhadap pasien EHF. Para pasien hanya diberi terapi suportif, yang berupa penyeimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh pasien, peningkatan jumlah oksigen, peningkatan tekanan darah dan perawatan dari penyakit komplikasi lain yang mungkin timbul.
       Sekarang telah dikembangkan suatu vaksin yang berbasis rekombinan virus stomatitis Vesikular atau rekombinan Adenovirus yang membawa Glikoprotein Ebola pada permukaanya. Pada tahun 2003 sebenarnya telah dikembangkan vaksin NIAID, namun tidak membawa hasil sukses. Masalahnya karena pemberian vaksin yang terlambat (1-4 hari setelah gejala muncul) sehingga tubuh pasien sudah terlalu parah untuk diobati.
       Karena sifatnya yang sangat mematikan, upaya memproduksi dan menguji vaksin Ebola sangatlah sulit dilakukan oleh para ahli. Salah satu faktor yang menghambat penelitian vaksin Ebola ini adalah minimnya fasilitas perlindungan laboratorium yang bisa melindungi staf peneliti. Hingga kini, belum ditemukan penyembuh virus yang memiliki kemungkinan kematian 50-90% itu.
















BAB III
PENUTUP
1.    KESIMPULAN
                Virus Ebola merupakan suatu virus dari famili filovirus genus filoviridae, dan dapat menyebabkan demam hemoroik (ebola hemorrhagic fever) yang hebat pada manusia. Ebola merupakan penyakit menular yang mematikan. Virus ini pertama kali ditemukan di Afrika tepatnya di Zaire, dan dapat menyerang monyet, kera, simpanse, dan terutama manusia.
          Demam Berdarah Ebola ( Demam Hemorrhagic) adalah penyakit disebabkan oleh suatu virus yang termasuk kedalam genus Ebolavirus, keluarga Filoviridae. Ada empat jenis virus Ebola, yaitu virus Ebola-Zaire, virus Ebola-Sudan,  virus Ebola-Ivory dan virus Ebola Reston. Untuk mendeteksi virus Ebola, dapat dilakukan pengujian antigen-capture enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA), IgG ELISA, polymerase chain reaction (PCR).
       Gejala demam ebola meliputi: radang sendi, sakit punggung, diare, kelelahan, sakit kepala, rasa tidak enak badan, kerongkongan terasa sangat sakit, dan muntah-muntah. Pada gejala akhir, demam ebola dapat menujukkan gejala seperti: gatal-gatal, pendarahan dari mata, telinga, dan hidung, pendarahan dari mulut dan dubur (pendarahan gastrointestinal), radang pada mata (conjunctivitis), bengkak pada organ genital (labia dan kantung buah pelir (scrotum)), keluarnya darah melalui permukaan kulit (hemorrhagic).
         Virus Ebola dapat menyebar melalui penggunaan jarum suntik yang tidak disterilkan atau melakukan kontak dengan seseorang yang terkena infeksi atau mayat orang yang sudah meningggal karena terserang virus Ebola. Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan: menghindari area yang terkena serangan virus Ebola, tidak melakukan kontak dengan pasien atau mayat yang terjangkit virus Ebola. Sampai dengan saat ini, belum ditemukan vaksin yang bisa mencegah infeksi oleh virus Ebola.


2.    SARAN
       Meskipun sampai dengan saat ini belum ada laporang tentang adanya penyakit yang disebabkan oleh virus Ebola, akan tetapi hendaknya kita selalu waspada terhadap virus Ebola mengingat virus ini sangat cepat menular, dapat dengan cepat menyebabkan kematian, dan sampai saat ini masih belum ditemukan vaksin yang bisa mencegah infeksi oleh virus Ebola.




DAFTAR PUSTAKA

Alek, 2000. http://www.bozz.com, diakses 2 April 2008.
Brooks, G.F, Bustel, J.S, and Ornston, L.N. Tanpa tahun. Mikrobiologi Kedokteran. Terjemahan oleh Nugroho, E dan Maulany, R.F. 1996. Penerbit Buku Kedokteran (EGC).
Halim, M. Suplement Vol 26 No.3 Juli-September 2005. http://www.harianterbit.com, diakses 4 juli 2013
Schnurrenberger, P.R. and Hubbert, W.T. Tanpa tahun. Ikhtisar Zoonosis. Terjemahan oleh Molyono, E. 1991. Penerbit ITB Bandung. Sunarto, http://www.wikimu.com/News, diakses 4 Juli 2013